PENGELOMPOKKAN KEILMUAN DALAM ISLAM
PENGELOMPOKAN KEILMUAN DALAM ISLAM
Pengelompokkan
Keilmuan Dalam Islam
Muhammad
Abed al-Jabiri, seorang pemikir muslim kontemporer asal Maroko membuat
klasifikasi ilmu dalam Islam secara epistemologis. Menurutnyan nalar pemikiran
Islam dapat dikategorikan ke dalam tiga epistemologi, yaitu :
1.
Bayani
Bayani,
secara etimologis mempunyai arti pengertian, penjelasan, pernyataan, ketetapan.
Sedangkan secara terminologis, bayani berarti pola pikir yang bersumber pada
nash, ijma’, dan ijtihad.
Menurut
Muhammad Abed al-Jabiri sumber epistemologi bayani adalah nash atau teks.
Dengan kata lain, corak berpikir ini lebih mengandalkan pada otoritas teks,
tidak hanyateks wahyunamun juga hasil pemikirankeagaan yang ditulis oleh para
ulama terdahulu.
Menurut
al-Jabiri lebih jauh, pola berpikir bayani ini berlaku untuk disiplin ilmu
seperti fikih, studi gramatika, filologi dan kalam. Beberapa prinsip yang
dipegang dalam coral bayani adalah infisal (diskontinu) atau atomistik, tjwiz
(tidak ada hukum kausalitas), dan muqarabah (keserupaan atau kedekataan dengan
teks).
Kerangka
berpikir yang diterapkan dalam disiplin ilmu di atas cenderung deduktif, yaitu
berpangkal dari teks. Otoritas ada pada teks, sehingga hasil pemikiran apa pun
tidak boleh bertentangan dengan teks. Yang dijadikan sebagai tolok ukur
kebenaran ilmu bayani adalah adanya keserupaan atau kedekatan antara nash atau
teks dengan realitas.
Keunggulan
bayani terletak pada kepada kebenaran teks (al-Qur’an dan Hadis) sebagai sumber
utama hukum Islam yang bersifat universal sehingga menjadi pedoman dan patokan
dalam pengambilan keputusan.
Menurut
Amin Abdullah ada kelemahan mencolok dari nalar epistemologi bayani, yaitu
ketika ia harus berhadapan dengan teks-teks keagamaan yang dimiliki oleh
komunitas, kultur, bangsa atau masyarakat yang beragama lain. Dalam realitasnya,
seringkali terdapat jurang antara yang terdapat dalam teks dengan
pelaksanaanya, sebab akan sangat bergantung pada kualitas pemikiran, pengalaman
dan lingkungan sosial tempat teks tersebut dipahami dan ditafsirkan.
2.
Burhani
Sumber
pengetahuan dalam nalar burhani adalah realitas, baik dari alam, sosial, dan
humanities. Karena itu, lebih sering disebut sebagai al-‘ilm al-husuli, yaitu
ilmu yang dikonsep, disusun dan disistematisasikan lewat premis-premis logika,
bukannya lewat otoritas teks atau nash. Premis ini disusun melalui penelitian
lapangan dan penelitian literer mendalam. Peran akal dalam nalar epistemologi
sangat besar sebab ia diarahkan untuk mencari sebab akibat.
Pendekatan
nalar burhani adalah filosofis dan saintifik. Nalar ini lebih menekankan pada
pemberian argumen dalam mencermati berbagai fenomena empirik dan sekaligus
memberikan alternatif pemecahan. Fenomena sosial dan alam tidak sekedar
diterima sebagai hukum sunnatullah yang tiada makna, namun ia menuntut kreativitas
manusia untuk merenungkan tentang tujuan ia diciptakan dan apa manfaat yang
dapat diambil oleh manusia. Karena itu, diperlukan pemikir yang berteologi qadariyah dengan pandangannya yang bebas, kreatif, dan bertanggung jawab, bukan teologi
jabariyah yang berpandangan bahwa manusia ibarat wayang yang cenderung kurang
aktif memikirkan fenomena alam.
Bedasarkan
urauan di atas, maka diperlukan orang yang bernalar kritis. Selain nalar
kritis, epistemologi burhani juga
menuntut orang untuk mampu membuat abstraksi dari berbagai fenomena yang
dibaca. Apa yang tampak dalam realitas, tidak sekedar dilihat dari apa yang ada
di permukaan namun ada hal yang perlu
dicermati.
Dengan
demikian, jenis argumen yang ada dalam nalar burhani adalah demonstratif. Dalam
nalar ini, lebih banyak dituntut untuk
menunjukkan bukti dan penjelasan tentang suatu pemahaman atau fenomena.
Berdasarkan dari uraian tersebut, maka keilmuan yang termasuk dalam nalar
burhani adalah falsafah, ilmu-ilmu alam seperti fisika, biologi, matematika dan
kedokteran, ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, psikologi, dan sejarah.
3.
Irfani
Dalam
epistemologi irfani, sumber pengetahuan adalah pengalaman. Nalar ini lebih
menekankan pada pengalaman langsung, sehingga yang lebih banyak terlibat adalah
rasa.
Dibandingkan
dengan nalar bayani, nalar irfani lebih bebas dalam memahami yang tersurat.
Imajinasi ranah ini lebih luas dan membukaberbagai kemungkinan secara bebas.
Karena itu, hasil dari nalar ini adalah kreatifitas dalam pencarian makna
sebagai hasil berimajinasi yang kadang hasilnya bertolak belakang dengan hasil
nalar bayani. Karena itu, kadang terjadi benturan antara hasil pemahaman baani
dan irfani.
Dalam
nalar irfani yang menjadi tolok ukur
adalah memahami perasaan orang lain, simpati, empati. Dalam studi Islam,
keilmuan yang termasuk dalam kategori ini adalah tasawuf dan akhlak. Misalnya
konsep tentang Tuhan, tidak sekedar didasarkan pada teks semata, namun apa yang
dirasakan oleh seorang hamba ketika berhadapan dengan Tuhan. Konsep mendekatkan diri pada Tuhan dalam nalar
irfani lebih kepada upaya mendekatkan diri kepada Tuhan secara spiritual dan
mental, sehingga ukurannya bersifat subyektif meskipun tanpa meninggalkan
ajaran islam.

1 Komentar:
Top 15 Hotels near Harrah's Casino and Racetrack in Las Vegas, Nevada
Harrah's Resort Casino 전라북도 출장안마 and Racetrack · Holiday Inn Express 전라남도 출장샵 RV Park 평택 출장안마 · Holiday Inn Express RV Park · Holiday Inn 대구광역 출장마사지 Express RV 계룡 출장안마 Park · Holiday Inn Express RV Park · Holiday Inn Express RV Park.
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda