Selasa, 26 November 2013

PENGELOMPOKKAN KEILMUAN DALAM ISLAM


PENGELOMPOKAN KEILMUAN DALAM ISLAM


Pengelompokkan Keilmuan Dalam Islam

Muhammad Abed al-Jabiri, seorang pemikir muslim kontemporer asal Maroko membuat klasifikasi ilmu dalam Islam secara epistemologis. Menurutnyan nalar pemikiran Islam dapat dikategorikan ke dalam tiga epistemologi, yaitu :
1.         Bayani
Bayani, secara etimologis mempunyai arti pengertian, penjelasan, pernyataan, ketetapan. Sedangkan secara terminologis, bayani berarti pola pikir yang bersumber pada nash, ijma’, dan ijtihad.
Menurut Muhammad Abed al-Jabiri sumber epistemologi bayani adalah nash atau teks. Dengan kata lain, corak berpikir ini lebih mengandalkan pada otoritas teks, tidak hanyateks wahyunamun juga hasil pemikirankeagaan yang ditulis oleh para ulama terdahulu.
Menurut al-Jabiri lebih jauh, pola berpikir bayani ini berlaku untuk disiplin ilmu seperti fikih, studi gramatika, filologi dan kalam. Beberapa prinsip yang dipegang dalam coral bayani adalah infisal (diskontinu) atau atomistik, tjwiz (tidak ada hukum kausalitas), dan muqarabah (keserupaan atau kedekataan dengan teks).
Kerangka berpikir yang diterapkan dalam disiplin ilmu di atas cenderung deduktif, yaitu berpangkal dari teks. Otoritas ada pada teks, sehingga hasil pemikiran apa pun tidak boleh bertentangan dengan teks. Yang dijadikan sebagai tolok ukur kebenaran ilmu bayani adalah adanya keserupaan atau kedekatan antara nash atau teks dengan realitas.
Keunggulan bayani terletak pada kepada kebenaran teks (al-Qur’an dan Hadis) sebagai sumber utama hukum Islam yang bersifat universal sehingga menjadi pedoman dan patokan dalam pengambilan keputusan.
Menurut Amin Abdullah ada kelemahan mencolok dari nalar epistemologi bayani, yaitu ketika ia harus berhadapan dengan teks-teks keagamaan yang dimiliki oleh komunitas, kultur, bangsa atau masyarakat yang beragama lain. Dalam realitasnya, seringkali terdapat jurang antara yang terdapat dalam teks dengan pelaksanaanya, sebab akan sangat bergantung pada kualitas pemikiran, pengalaman dan lingkungan sosial tempat teks tersebut dipahami dan ditafsirkan.
2.         Burhani
Sumber pengetahuan dalam nalar burhani adalah realitas, baik dari alam, sosial, dan humanities. Karena itu, lebih sering disebut sebagai al-‘ilm al-husuli, yaitu ilmu yang dikonsep, disusun dan disistematisasikan lewat premis-premis logika, bukannya lewat otoritas teks atau nash. Premis ini disusun melalui penelitian lapangan dan penelitian literer mendalam. Peran akal dalam nalar epistemologi sangat besar sebab ia diarahkan untuk mencari sebab akibat.
Pendekatan nalar burhani adalah filosofis dan saintifik. Nalar ini lebih menekankan pada pemberian argumen dalam mencermati berbagai fenomena empirik dan sekaligus memberikan alternatif pemecahan. Fenomena sosial dan alam tidak sekedar diterima sebagai hukum sunnatullah yang tiada makna, namun ia menuntut kreativitas manusia untuk merenungkan tentang tujuan ia diciptakan dan apa manfaat yang dapat diambil oleh manusia. Karena itu, diperlukan pemikir yang berteologi  qadariyah dengan pandangannya yang bebas,  kreatif, dan bertanggung jawab, bukan teologi jabariyah yang berpandangan bahwa manusia ibarat wayang yang cenderung kurang aktif memikirkan fenomena alam.
Bedasarkan urauan di atas, maka diperlukan orang yang bernalar kritis. Selain nalar kritis, epistemologi burhani juga  menuntut orang untuk mampu membuat abstraksi dari berbagai fenomena yang dibaca. Apa yang tampak dalam realitas, tidak sekedar dilihat dari apa yang ada di permukaan namun ada hal  yang perlu dicermati.
Dengan demikian, jenis argumen yang ada dalam nalar burhani adalah demonstratif. Dalam nalar ini, lebih banyak  dituntut untuk menunjukkan bukti dan penjelasan tentang suatu pemahaman atau fenomena. Berdasarkan dari uraian tersebut, maka keilmuan yang termasuk dalam nalar burhani adalah falsafah, ilmu-ilmu alam seperti fisika, biologi, matematika dan kedokteran, ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, psikologi, dan sejarah.
3.         Irfani
Dalam epistemologi irfani, sumber pengetahuan adalah pengalaman. Nalar ini lebih menekankan pada pengalaman langsung, sehingga yang lebih banyak terlibat adalah rasa.
Dibandingkan dengan nalar bayani, nalar irfani lebih bebas dalam memahami yang tersurat. Imajinasi ranah ini lebih luas dan membukaberbagai kemungkinan secara bebas. Karena itu, hasil dari nalar ini adalah kreatifitas dalam pencarian makna sebagai hasil berimajinasi yang kadang hasilnya bertolak belakang dengan hasil nalar bayani. Karena itu, kadang terjadi benturan antara hasil pemahaman baani dan irfani.
Dalam nalar irfani yang menjadi tolok  ukur adalah memahami perasaan orang lain, simpati, empati. Dalam studi Islam, keilmuan yang termasuk dalam kategori ini adalah tasawuf dan akhlak. Misalnya konsep tentang Tuhan, tidak sekedar didasarkan pada teks semata, namun apa yang dirasakan oleh seorang hamba ketika berhadapan dengan Tuhan. Konsep  mendekatkan diri pada Tuhan dalam nalar irfani lebih kepada upaya mendekatkan diri kepada Tuhan secara spiritual dan mental, sehingga ukurannya bersifat subyektif meskipun tanpa meninggalkan ajaran islam.

1 Komentar:

Pada 3 Maret 2022 pukul 08.31 , Blogger Unknown mengatakan...

Top 15 Hotels near Harrah's Casino and Racetrack in Las Vegas, Nevada
Harrah's Resort Casino 전라북도 출장안마 and Racetrack · Holiday Inn Express 전라남도 출장샵 RV Park 평택 출장안마 · Holiday Inn Express RV Park · Holiday Inn 대구광역 출장마사지 Express RV 계룡 출장안마 Park · Holiday Inn Express RV Park · Holiday Inn Express RV Park.

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda