Sragen Kota Ku
RAGAM DAN NILAI-NILAI KEBUDAYAAN
KABUPATEN SRAGEN
Kabupaten Sragen dikenal dengan sebutan “Bumi Sukowati”. Meskipun
sragen termasuk kota yang kecil, namun kota ini dipenuhi bermacam-macam budaya
yang ada, mulai dari budaya kesenian, serta makanan khas dari sragen. Bisa
dibilang sragen adalah kota kecil namun mempunyai berbagai macam kebudayaan
menarik minat wisatawan. Berikut ragam kebudayaan dan nilai-nilai kebudayaan
Kabupaten Sragen.
A. Budaya Masyarakat “SRAGEN ASRI”
Sragen
ASRI, ASRI merupakan singkatan dari Aman, Sehat, Rapi, dan Indah. Sampai saat
ini kota Sragen bisa dikatakan kota yang aman karena belum pernah terdengar
cerita-cerita atau berita mengenai bom. Sehat, kota Sragen bisa dikatakan sehat
juga karena setiap hari minggu kota Sragen meerapkan “Car Free Day”
untuk menerapkan penduduk-penduduk Sragen hidup sehat. Rapi, bisa dikatakan
rapi karena memang tatanan kota Sragen ini selalu rapi dan indah. Indah, jarang
sekali terlihat ada sampah-sampah yang tergeletak di sepanjang Jalan Sukowati.
Hal ini membuat mata menjadi segar untuk melihatnya.
B.
Budaya Kesenian Sragen
Kesenian
dari kota kecil ini tidak kalah dari kesenian kota-kota besar yang lain.
Contohnya yaitu tari Gambyong, dan tari Tayub. Kesenian Tayub memang sudah
tidak asing, terlebih lagi warga di daerah Sragen dan sekitarnya. Pertunjukkan
Tayub ini digunakan warga untuk memeriahkan acara sunatan atau pernikahan.
Tayub pada mulanya merupakan ungkapan kegembiraan untuk menyambut kedatangan
tamu dan merupakan bagian dari pesta rakyat. Selain tarian, Sragen juga
memiliki batik yang menjadi kesenian di kota ini. Pusat Batik tersebut yaitu
Desa Kliwonan dan Desa Pilang Kecamatan Masaran. Banyak pengusaha batik
terkenal mengambil batik dari pengrajin di desa ini kemudian memberi labelnya
sendiri. Selain itu, di Sragen juga terdapat kesenian wayang, yang meliputi
Wayang Beber dan Wayang Cokek’an. Cerita Wayang Cokek’an ini tidak merunut
cerita Mahabarata ataupun Ramayana tetapi mengambil cerita tentang Babad Tanah
Perdikan Sukowati/Sragen dan cerita kehidupan sehari-hari. Begitu juga tokoh
wayangnya tidak seperti dalam tokoh wayang pada umumnya tetapi mengambil figur
orang terutama tokoh yang ada di Sragen.
C.
Budaya Makanan Sragen
Bisa
dibilang orang Sragen ini cukup kreatif dalam hal makanan khas mereka. Salah
satunya yaitu Tempe kripik. Jajanan yang mempunyai cita rasa gurih dan renyah
tersebut dapat dikonsumsi baik sebagai lauk maupun cemilan. Kota Sragen ini
memiliki beberapa tempat kuliner yang khas diantaranya, kuliner Mbah Rajak.
Bermacam-macam makanan tradisional tersedia di sini. Diantaranya, jenang,
trasikan, wajik, jadah dan aneka makanan pasar lainya. Setiap harinya Mbah
Rajak ini menjual dagangannya di Pasar Bunder Sragen (pusat pasar tradisional
terbesar di Sragen). Tempat kuliner yang tak kalah menariknya adalah Pujamari
(Pusat Jajanan Malam Hari). Pujamari yang terletak di pelataran Galery Batik
Sukowati Sragen yang mulai buka pada pukul 17.00 WIB menawarkan makanan-makanan
khas yang ada di Sragen yang dijual oleh beberapa pedagang yang legendaris di Sragen.
Selain itu, ada juga Soto Kwali, Sate Banaran, dan Pecel Tumpang.
D. Adat
Kebiasaan/Tradisi Masyarakat Sragen
1.
Kebudayaan Cembengan
Sejarah
Munculnya Cembengan di Sragen Pabrik Gula Mojo. Pabrik Mojo berdiri sejak masa
kedudukan Hindia-Belanda karena pada masa kolonial, pemerintah Hindia- Belanda
mendirikan pabrik gula hampir disetiap kota di Jawa Tengah, dan yang ada di
Sragen adalah Pabrik Gula Mojo. Pabrik Mojo mulai beroperasi sejak tahun 1883
dan sampai sekarang ini. Pada masa kedudukan Hindia-Belanda Pabrik Mojo
dikelola oleh orang kolonial. Untuk pengelolaan perkebunan dan proses produksi
gula orang kolonial mendatangkan pekerja kasar dari Cina yang sering disebut
dengan istilah kuli. Kuli merupakan salah satu kata dari Bahasa Mandarin yang
berarti pekerja kasar. Masuknya kuli atau pekerja kasar dari Cina ke Indonesia
membawa kebudayaan atau tradisi yang berbau Cina di Indonesia dalam hal ini
khususnya di daerah sekitar pabrik gula.
Salah
satu tradisi yang dilakukan kuli pabrik gula adalah melakukan upacara
cembengan. Setelah musim panen tebu selesai maka akan dimulailah musim giling
tebu tetapi sebelum tebu pertama dimasukan ke mesin penggilingan atau sebelum
memulai proses penggilingan biasanya para kuli atau pekerja pabrik ini
melakukan upacara cembengan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen dan
juga merupakan do’a agar proses penggilingan tebu yang akan dilakukan dapat berjalan
lancar dan hasilnya dapat memenuhi target. Cembengan itu sendiri juga berasal
dari bahasa mandarin “Cin Bing” yang berarti ritual khas Tionghoa untuk
mendo’akan roh nenek moyang atau yang sering disebut dengan ziarah.
Sebelum
melakukan proses giling tebu, pekerja pabrik melakukan ziarah ke makam Mbah
Paleh dan Mbah Krandah. Dari ceritera yang berkembang di masyarakat Mbah Paleh
dan Mbah Krandah adalah pengikut Kyai Adipati Djaengrana dari Surabaya (Jawa
Timur). Pihak kolonial Belanda tahu bahwa Djaengrana merupakan orang kuat di
Surabaya, maka koloni Belanda berupaya melumpuhkan Djaengrana dengan cara yang
licik. Djaengrana disuruh menghadap Raja Surakarta (Pakubuwono I), tetapi
sesampai disebuah tempat yang sekarang menjadi kota Sragen. Djaengrana beserta
pengikutnya dicegah dengan dalih “jika ingin menghadap Raja tidak boleh membawa
pengikut dan benda-benda pusaka”. Niat koloni Belanda yang ingin membunuh
Djaengrana akhirnya terwujud, sesampai di Laweyan Surakarta Djaengrana dibunuh,
tepatnya tanggal 28 Februari 1709. Para pengikut Djaengrana menunggu di Sragen
yang pada saat itu masih berupa hutan. Salah satu sesepuh di Sragen yang
bernama Beluh menyusul dan mencari tahu keadaan Djaengrana ke Surakarta tapi
Beluh juga dibunuh. Akhirnya Mbah Paleh dan Mbah Krandah beserta pengikutnya
yang lain “mbodro” di Sragen sampai meninggal dunia. Pada awal pendirian pabrik
gula Mojo, berada didekat pepunden makam Mbah Paleh dan Mbah Krandah. Dan
sampai sekarang makam Mbah Paleh dan Mbah Krandah masih memiliki nilai
spiritual yang tinggi maka tiap tahunnya sebelum memasuki waktu giling tebu
pasti melakukan ziarah ke makam Mbah Paleh dan Mbah Krandah.
Proses
Berlangsungnya Cembengan di Sragen Cembengan di Pabrik Gula Mojo ini dilakukan
agar proses produksi berjalan lancar dan hasil produksi dapat mencapai target.
Cembengan dilaksanakan satu tahun sekali biasanya pada bulan April atau Mei dan
dilaksanakan diarea pabrik Mojo. Prosesi cembengan itu terdiri dari beberapa
tahap, yaitu: yang pertama ziarah ke makam mbah Paleh dan mbah Krandah, yang
kedua acara yang sering disebut temanten tebu, dan acara penutup adalah acara hiburan.
Sebelum
memulai tradisi cembengan yang pertama kali dilakukan adalah berziarah ke makam
Mbah Paleh dan Mbah Krandah. Ziarah disini dilengkapi dengan berbagai macam
sesaji yang diperlukan untuk ritual. Makam Mbah Paleh dan Mbah Krandah masih
dianggap memiliki nilai spiritual yang tinggi karena waktu pendirian Pabrik
Gula Mojo berada didekat pepunden makam Mbah Paleh dan Mbah Krandah. Dan
pelaksanaan ziarah ini bertujuan agar arwah atau pun roh-roh leluhur disekitar
pabrik dapat tenang dan tidak mengganggu dalam proses penggilingan tebu yang
akan dilaksanakan. Dan banyak yang mengatakan kalau prosesi ini bertujuan untuk
meminimalisir terjadinya korban dari pihak karyawan pabrik pada saat proses
penggilingan.
Di hari
yang sama dengan ziarah ke makam Mbah Paleh dan Mbah Krandah adalah prosesi
methik (pemetikan) tebu temanten sampai dengan penggilingan tebu temanten. Tebu
temanten itu terdiri dari tebu lanang (laki-laki) dan tebu wedok (perempuan
yang dipethik di kebun tebu. Setelah tebu dipethik, tebu temanten itu diletakan
di kantor tebang angkut yang terletak di kompleks area pabrik gula Mojo.
Setelah memetik tebu temanten menyiapkan perlatan untuk upacara selametan.
Selanjutnya, setelah peralatan upacara selamatan lengkap, dipanjatkan do’a
bersama yang dipimpin oleh seorang modin dengan ujub (niat) diberikan
keberhasilan sehingga memperoleh keuntungan dan keselamatan karyawan dan
mesin-mesin di Pabrik Gula Mojo.
Kemudian,
prosesi dilanjutkan dengan memasukan tebu temanten yang telah disiapkan ke
penggilingan. Dan dengan telah dimasukan tebu temanten ke dalam mesin
penggilingan itu berarti musim giling tebu di Pabrik Gula Mojo telah dimulai.
Setelah prosesi ini selesai, acara syukuran dan ramah tamah dikemas dalam acara
hiburan. Dalam setiap prosesi cembengan pasti tak lepas dari pasar malam yang
diramaikan berbagai penjual dan hiburan. Dengan adanya pasar malam ini menjadi
sarana hiburan tersendiri bagi warga Sragen karena dapat berbelanja berbagai
peralatan seperti, pakaian, peralatan didapur, sandal, sepatu, hiasan rumah,
aksesoris dan lain sebagainya. Dan masyarakat juga dapat terhibur dengan adanya
pasar malam ini karena masyarakat dapat bersenang-senang dengan keluarga mereka
dipasar malam dengan berbagai permainan yang ada seperti kereta mini atau
kereta kelinci, komedi putar, mandi bola, jinontrol, kora-kora dan permainan
lainnya. Bebagai pertunjukkan tradisional seperti Reog dan Tari Gambyong juga
ikut mewarnai semaraknya pesta giling Cembengan ini. Di depan kantor Pabrik
Gula Mojo, digelar seremoni pembukaan yang dibuka dengan Tari Gambyong, hiburan
Campursari dan Dagelan Kethoprak. Sementara itu di area dalam Pabrik Gula Mojo
yang dipakai sebagai stasiun giling tebu, digelar wayang kulit dengan Lakon Sri
Mulih. Lakon Sri Mulih adalah cerita diluar pakem asli Mahabarata yang
dipentaskan khusus untuk upacara mohon keselamatan atau syukuran. Kisah ini
menceritakan tentang kedatangan Dewi Sri, sebagai ikon simbol kesuburan dan
hasil panen yang melimpah yang mengalah ancaman dari berbagai malapetaka.
Dengan
adanya acara hiburan seperti penampilan tari gambyong, pertunjukan wayang
kulit, dan pasar malam itu dilaksanakan oleh pihak pabrik bertujuan untuk lebih
mempererat hubungan antara Pabrik Gula Mojo dengan Masyarakat yang tinggal
disekitarnya. Walaupun tidak semua warga sekitar mencari nafkah di pabrik gula
atau perkebunannya, dengan pesta rakyat cembengan tersebut diharapkan bahwa
berkah dari adanya pabrik gula bisa dirasakan oleh masyarakat secara lebih
luas. Bisa dikatakan bahwa pesta rakyat cembengan sebagai program cara
berhubungan dengan masyarakat yang sangat cerdas, yang lahir dari leluhur-
leluhur terdahulu. Tidak cuma hiburan, ada aktivitas ekonomi yang berdampak
signifikan dalam perayaan Cembengan ini. Para pengusaha gula dari masa- masa
terdahulu, telah memberikan warisan sebuah pelajaran penting dimana kehadiran
sebuah pabrik gula haruslah tidak hanya berbuah manis bagi pemilik dan karyawannya,
tetapi manisnya bisa dirasakan oleh masyarakat umum disekitarnya.
2.
Upacara Adat Larap Slambu
Salah
satu upacara adat Kabupaten Sragen ini digelar setiap menyambut bulan Suro pada
tahun baru dalam kalender Jawa. Ritual adat di Sragen ini biasa digelar di
kawasan kompleks makam Pangeran Samudro, atau yang lebih dikenal dengan nama
Gunung Kemukus, dengan nama upacara Larap Slambu. Setiap Tanggal 1 Suro,
Upacara Larap Slambu Makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus Ritual adat di
Sragen ini sangat terkenal dengan prosesi pencucian dan penggantian kain
penutup makamnya. Makam yang dimaksud adalah milik Pangeran Samudro yang
dipercaya sebagai salah satu anak raja terakhir Majapahit yang masuk Islam dan
dan berguru kepada Sunan Kalijaga. Dalam prosesi adat ini pengunjung yang hadir
biasa memperebutkan air cucian kain makam atau juga sesaji yang dihanyutkan ke
sungai saat prosesi pencucian digelar. Selain prosesi adat itu, kini upacara
ini juga telah dikemas dalam sebuah kegiatan grebeg budaya yang juga menyajikan
berbagai hiburan tradisional seperti kirab gunungan hasil bumi dan juga
pergelaran wayang kulit semalam suntuk.
3.
Tradisi Jum’at Wage di Bulan Sya’ban
Salah
satu tradisi yang menjadi salah satu upacara adat Kabupaten Sragen adalah
tradisi bersih desa yang digelar oleh warga Dusun Ngablak. Tradisi bersih desa
Dusun Ngablak ini adalah tradisi yang rutin digelar setiap hari Jum’at Wage
pada bulan Sya’ban dalam penanggalan Islam atau Hijriyah (bulan Ruwah dalam
penanggalan Jawa). Tidak berbeda dari tradisi bersih desa di lokasi lain,
tradisi di kawasan bagian selatan Kabupaten Sragen itu dimaksudkan untuk
memanjatkan do’a pada Tuhan agar dilimpahi ketentraman dan dijauhkan dari pagebluk.
Karena itu juga tradisi ini diawali dengan acara kendurian selamatan yang
digelar warga di sebuah pesanggrahan desa. Setelah prosesi kendurian selesai
barulah beberapa kegiatan pendamping digelar oleh panitia penyelenggara.
Kegiatan seperti hiburan berupa lomba dan atraksi jadi suguhan utama. Atraksi
tradisional seperti jathilan atau jaran kepang hingga hiburan ketoprak dapat
ditemui setelah kegiatan utama berlangsung. Selain atraksi dan hiburan
tradisional itu, dalam tradisi bersih desa ini dapat dijumpai berbagai makanan
tradisional yang mungkin makin jarang ditemukan saat ini seperti nasi kulupan
yang hanya bisa dijumpai saat kendurian.
4. Tradisi
Selamatan Kematian
Pelaksanaan
selamatan kematian yang berlaku di masyarakat dilaksanakan setelah kegiatan
memandikan sampai penguburan jenazah, yaitu pada hari pertama meninggalnya sampai
hari ketujuh, keempatpuluh, keseratus, haul dan sampai hari keseribu.Waktu
pelaksanaan sering diadakan pada saat matahari telah terbenam yaitu setelah
Maghrib atau Isya’ kadang juga dilaksanakan pada waktu matahari akan terbenam,
yaitu sekitar setelah shalat Ashar, yang jelas waktu pelaksanaan selamatan
kematian (tahlilan) tersebut bukan pada saat matahari sedang menyengat
melainkan di saat udara dalam keadaan sejuk dan tidak panas. Pemilihan waktu
paling tidak didasarkan atas suatu faktor tertentu, yaitu ketika masyarakat
sudah beristirahat dari pekerjaannya serta tempat acara tahlilan dilaksanakan
di rumah, serambi depan dengan mengosongkan suatu ruangan yang cukup luas untuk
menampung para tamu. Upacara selamatan kematian (tahlilan) dihadiri oleh para
anggota keluarga itu sendiri dengan beberapa tamu yang biasanya adalah
tetangga- tetangga terdekat, para pria, serta selamatan tersebut dipimpin oleh
seorang mudin atau Kyai kemungkinan besar sudah berada di rumah.
Acara
tahlilan, sebagaimana acara-acara lain, dimulai dengan pembukaan dan diakhiri
dengan pembagian makanan kepada para hadirin. Kaitannya dengan masalah makanan
dalam acara tersebut, kadang-kadang pihak keluarga si mayat ada yang
menyajikannya sampai dua kali, yaitu untuk disantap bersama di rumah tempat
mereka berkumpul dan untuk dibawa pulang ke rumah masing- masing, yang disebut
dengan istilah “berkat” (berasal dari bahasa Arab) barakah. Proses berjalannya
acara yang sudah menjadi adat kebiasaan, dipimpin oleh seorang tokoh
masyarakat, kalau bukan seorang ulama atau ustad yang sengaja disiapkan oleh
tuan rumah. Penyajian hidangan disini tidak pernah ditentukan, tetapi pada
hari-ahri ke-3 danke-7 biasanya penyajian hidangan menyajikan tumpeng, jajan
pasar, lauk-pauk, dan dalam jajan pasar kadangkadang ada kue “Apem” sebagai
pelengkap. Kue apem disini mempunyai maksud dan arti tersendiri. Kata Apem
dalam sejarahnya berasal dari kata“Afwan” yang artinya maaf dari dosa. Maksud
bahwa orang yang mengadakan selamatan kematian itu adalah untuk memohon maafkan
arwah keluarga dari dosanya semasa masih hidup. Dan ketika selamatan kematian
itu menempati hari ke-40, ke-100, ke-1000 dan haul pada tiap tahunnya, maka
penyajian hidangan itu sudah berbeda lagi yaitu sesuai dengan kemampuan si
punya hajat.
5. Adat Perkawinan Larangan Jilu
Dalam
pelaksanaan perkawinan, masyarakat sangat terikat oleh aturan, baik yang
tertulis maupun yang tidak tertulis, bahkan ketergantungan pada adat atau
tradisi tata cara masyarakat yang berlaku sejak nenek moyang secara turun-temurun.
Adat jilu merupakan salah satu dari larangan perkawinan yang masih dipakai.
Jilu merupakan singkatan dari kata siji dan telu. Kata siji dalam bahasa
Indonesia berarti satu, dan telu berarti tiga. Adat jilu merupakan larangan
perkawinan antara anak nomer satu dengan anak nomer tiga atau sebaliknya.
Menurut masyarakat, adat ini tidak boleh ditinggalkan atau dilanggar. Sebab
sampai saat ini, diakui atau tidak, bila meninggalkan atau melanggar adat masih
dipercaya akan ada hal buruk yang bisa terjadi.
E.
Tempat Wisata Sragen
1.
Pemandian Air Panas Bayanan
2.
Museum Prasejarah Sangiran
3.
Taman Dayu (Dayu Park/Taman Dayu Alam Asri)
4.
Waduk Kedung Ombo
5.
Gunung Kemukus
6.
Desa Wisata Batik Kliwonan
7.
Makam Joko Tingkir
8.
Galleri Batik Sukowati dan Sentra Bisnis Batik Sragen
