Kamis, 25 Mei 2017

Sragen Kota Ku

RAGAM DAN NILAI-NILAI KEBUDAYAAN KABUPATEN SRAGEN

Kabupaten Sragen dikenal dengan sebutan “Bumi Sukowati”. Meskipun sragen termasuk kota yang kecil, namun kota ini dipenuhi bermacam-macam budaya yang ada, mulai dari budaya kesenian, serta makanan khas dari sragen. Bisa dibilang sragen adalah kota kecil namun mempunyai berbagai macam kebudayaan menarik minat wisatawan. Berikut ragam kebudayaan dan nilai-nilai kebudayaan Kabupaten Sragen.

A.  Budaya Masyarakat “SRAGEN ASRI”
Sragen ASRI, ASRI merupakan singkatan dari Aman, Sehat, Rapi, dan Indah. Sampai saat ini kota Sragen bisa dikatakan kota yang aman karena belum pernah terdengar cerita-cerita atau berita mengenai bom. Sehat, kota Sragen bisa dikatakan sehat juga karena setiap hari minggu kota Sragen meerapkan “Car Free Day” untuk menerapkan penduduk-penduduk Sragen hidup sehat. Rapi, bisa dikatakan rapi karena memang tatanan kota Sragen ini selalu rapi dan indah. Indah, jarang sekali terlihat ada sampah-sampah yang tergeletak di sepanjang Jalan Sukowati. Hal ini membuat mata menjadi segar untuk melihatnya.

B.   Budaya Kesenian Sragen
Kesenian dari kota kecil ini tidak kalah dari kesenian kota-kota besar yang lain. Contohnya yaitu tari Gambyong, dan tari Tayub. Kesenian Tayub memang sudah tidak asing, terlebih lagi warga di daerah Sragen dan sekitarnya. Pertunjukkan Tayub ini digunakan warga untuk memeriahkan acara sunatan atau pernikahan. Tayub pada mulanya merupakan ungkapan kegembiraan untuk menyambut kedatangan tamu dan merupakan bagian dari pesta rakyat. Selain tarian, Sragen juga memiliki batik yang menjadi kesenian di kota ini. Pusat Batik tersebut yaitu Desa Kliwonan dan Desa Pilang Kecamatan Masaran. Banyak pengusaha batik terkenal mengambil batik dari pengrajin di desa ini kemudian memberi labelnya sendiri. Selain itu, di Sragen juga terdapat kesenian wayang, yang meliputi Wayang Beber dan Wayang Cokek’an. Cerita Wayang Cokek’an ini tidak merunut cerita Mahabarata ataupun Ramayana tetapi mengambil cerita tentang Babad Tanah Perdikan Sukowati/Sragen dan cerita kehidupan sehari-hari. Begitu juga tokoh wayangnya tidak seperti dalam tokoh wayang pada umumnya tetapi mengambil figur orang terutama tokoh yang ada di Sragen.

C.   Budaya Makanan Sragen
Bisa dibilang orang Sragen ini cukup kreatif dalam hal makanan khas mereka. Salah satunya yaitu Tempe kripik. Jajanan yang mempunyai cita rasa gurih dan renyah tersebut dapat dikonsumsi baik sebagai lauk maupun cemilan. Kota Sragen ini memiliki beberapa tempat kuliner yang khas diantaranya, kuliner Mbah Rajak. Bermacam-macam makanan tradisional tersedia di sini. Diantaranya, jenang, trasikan, wajik, jadah dan aneka makanan pasar lainya. Setiap harinya Mbah Rajak ini menjual dagangannya di Pasar Bunder Sragen (pusat pasar tradisional terbesar di Sragen). Tempat kuliner yang tak kalah menariknya adalah Pujamari (Pusat Jajanan Malam Hari). Pujamari yang terletak di pelataran Galery Batik Sukowati Sragen yang mulai buka pada pukul 17.00 WIB menawarkan makanan-makanan khas yang ada di Sragen yang dijual oleh beberapa pedagang yang legendaris di Sragen. Selain itu, ada juga Soto Kwali, Sate Banaran, dan Pecel Tumpang.

D.  Adat Kebiasaan/Tradisi Masyarakat Sragen
1.    Kebudayaan Cembengan
Sejarah Munculnya Cembengan di Sragen Pabrik Gula Mojo. Pabrik Mojo berdiri sejak masa kedudukan Hindia-Belanda karena pada masa kolonial, pemerintah Hindia- Belanda mendirikan pabrik gula hampir disetiap kota di Jawa Tengah, dan yang ada di Sragen adalah Pabrik Gula Mojo. Pabrik Mojo mulai beroperasi sejak tahun 1883 dan sampai sekarang ini. Pada masa kedudukan Hindia-Belanda Pabrik Mojo dikelola oleh orang kolonial. Untuk pengelolaan perkebunan dan proses produksi gula orang kolonial mendatangkan pekerja kasar dari Cina yang sering disebut dengan istilah kuli. Kuli merupakan salah satu kata dari Bahasa Mandarin yang berarti pekerja kasar. Masuknya kuli atau pekerja kasar dari Cina ke Indonesia membawa kebudayaan atau tradisi yang berbau Cina di Indonesia dalam hal ini khususnya di daerah sekitar pabrik gula.
Salah satu tradisi yang dilakukan kuli pabrik gula adalah melakukan upacara cembengan. Setelah musim panen tebu selesai maka akan dimulailah musim giling tebu tetapi sebelum tebu pertama dimasukan ke mesin penggilingan atau sebelum memulai proses penggilingan biasanya para kuli atau pekerja pabrik ini melakukan upacara cembengan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen dan juga merupakan do’a agar proses penggilingan tebu yang akan dilakukan dapat berjalan lancar dan hasilnya dapat memenuhi target. Cembengan itu sendiri juga berasal dari bahasa mandarin “Cin Bing” yang berarti ritual khas Tionghoa untuk mendo’akan roh nenek moyang atau yang sering disebut dengan ziarah.
Sebelum melakukan proses giling tebu, pekerja pabrik melakukan ziarah ke makam Mbah Paleh dan Mbah Krandah. Dari ceritera yang berkembang di masyarakat Mbah Paleh dan Mbah Krandah adalah pengikut Kyai Adipati Djaengrana dari Surabaya (Jawa Timur). Pihak kolonial Belanda tahu bahwa Djaengrana merupakan orang kuat di Surabaya, maka koloni Belanda berupaya melumpuhkan Djaengrana dengan cara yang licik. Djaengrana disuruh menghadap Raja Surakarta (Pakubuwono I), tetapi sesampai disebuah tempat yang sekarang menjadi kota Sragen. Djaengrana beserta pengikutnya dicegah dengan dalih “jika ingin menghadap Raja tidak boleh membawa pengikut dan benda-benda pusaka”. Niat koloni Belanda yang ingin membunuh Djaengrana akhirnya terwujud, sesampai di Laweyan Surakarta Djaengrana dibunuh, tepatnya tanggal 28 Februari 1709. Para pengikut Djaengrana menunggu di Sragen yang pada saat itu masih berupa hutan. Salah satu sesepuh di Sragen yang bernama Beluh menyusul dan mencari tahu keadaan Djaengrana ke Surakarta tapi Beluh juga dibunuh. Akhirnya Mbah Paleh dan Mbah Krandah beserta pengikutnya yang lain “mbodro” di Sragen sampai meninggal dunia. Pada awal pendirian pabrik gula Mojo, berada didekat pepunden makam Mbah Paleh dan Mbah Krandah. Dan sampai sekarang makam Mbah Paleh dan Mbah Krandah masih memiliki nilai spiritual yang tinggi maka tiap tahunnya sebelum memasuki waktu giling tebu pasti melakukan ziarah ke makam Mbah Paleh dan Mbah Krandah.
Proses Berlangsungnya Cembengan di Sragen Cembengan di Pabrik Gula Mojo ini dilakukan agar proses produksi berjalan lancar dan hasil produksi dapat mencapai target. Cembengan dilaksanakan satu tahun sekali biasanya pada bulan April atau Mei dan dilaksanakan diarea pabrik Mojo. Prosesi cembengan itu terdiri dari beberapa tahap, yaitu: yang pertama ziarah ke makam mbah Paleh dan mbah Krandah, yang kedua acara yang sering disebut temanten tebu, dan acara penutup adalah acara hiburan.
Sebelum memulai tradisi cembengan yang pertama kali dilakukan adalah berziarah ke makam Mbah Paleh dan Mbah Krandah. Ziarah disini dilengkapi dengan berbagai macam sesaji yang diperlukan untuk ritual. Makam Mbah Paleh dan Mbah Krandah masih dianggap memiliki nilai spiritual yang tinggi karena waktu pendirian Pabrik Gula Mojo berada didekat pepunden makam Mbah Paleh dan Mbah Krandah. Dan pelaksanaan ziarah ini bertujuan agar arwah atau pun roh-roh leluhur disekitar pabrik dapat tenang dan tidak mengganggu dalam proses penggilingan tebu yang akan dilaksanakan. Dan banyak yang mengatakan kalau prosesi ini bertujuan untuk meminimalisir terjadinya korban dari pihak karyawan pabrik pada saat proses penggilingan.
Di hari yang sama dengan ziarah ke makam Mbah Paleh dan Mbah Krandah adalah prosesi methik (pemetikan) tebu temanten sampai dengan penggilingan tebu temanten. Tebu temanten itu terdiri dari tebu lanang (laki-laki) dan tebu wedok (perempuan yang dipethik di kebun tebu. Setelah tebu dipethik, tebu temanten itu diletakan di kantor tebang angkut yang terletak di kompleks area pabrik gula Mojo. Setelah memetik tebu temanten menyiapkan perlatan untuk upacara selametan. Selanjutnya, setelah peralatan upacara selamatan lengkap, dipanjatkan do’a bersama yang dipimpin oleh seorang modin dengan ujub (niat) diberikan keberhasilan sehingga memperoleh keuntungan dan keselamatan karyawan dan mesin-mesin di Pabrik Gula Mojo.
Kemudian, prosesi dilanjutkan dengan memasukan tebu temanten yang telah disiapkan ke penggilingan. Dan dengan telah dimasukan tebu temanten ke dalam mesin penggilingan itu berarti musim giling tebu di Pabrik Gula Mojo telah dimulai. Setelah prosesi ini selesai, acara syukuran dan ramah tamah dikemas dalam acara hiburan. Dalam setiap prosesi cembengan pasti tak lepas dari pasar malam yang diramaikan berbagai penjual dan hiburan. Dengan adanya pasar malam ini menjadi sarana hiburan tersendiri bagi warga Sragen karena dapat berbelanja berbagai peralatan seperti, pakaian, peralatan didapur, sandal, sepatu, hiasan rumah, aksesoris dan lain sebagainya. Dan masyarakat juga dapat terhibur dengan adanya pasar malam ini karena masyarakat dapat bersenang-senang dengan keluarga mereka dipasar malam dengan berbagai permainan yang ada seperti kereta mini atau kereta kelinci, komedi putar, mandi bola, jinontrol, kora-kora dan permainan lainnya. Bebagai pertunjukkan tradisional seperti Reog dan Tari Gambyong juga ikut mewarnai semaraknya pesta giling Cembengan ini. Di depan kantor Pabrik Gula Mojo, digelar seremoni pembukaan yang dibuka dengan Tari Gambyong, hiburan Campursari dan Dagelan Kethoprak. Sementara itu di area dalam Pabrik Gula Mojo yang dipakai sebagai stasiun giling tebu, digelar wayang kulit dengan Lakon Sri Mulih. Lakon Sri Mulih adalah cerita diluar pakem asli Mahabarata yang dipentaskan khusus untuk upacara mohon keselamatan atau syukuran. Kisah ini menceritakan tentang kedatangan Dewi Sri, sebagai ikon simbol kesuburan dan hasil panen yang melimpah yang mengalah ancaman dari berbagai malapetaka.
Dengan adanya acara hiburan seperti penampilan tari gambyong, pertunjukan wayang kulit, dan pasar malam itu dilaksanakan oleh pihak pabrik bertujuan untuk lebih mempererat hubungan antara Pabrik Gula Mojo dengan Masyarakat yang tinggal disekitarnya. Walaupun tidak semua warga sekitar mencari nafkah di pabrik gula atau perkebunannya, dengan pesta rakyat cembengan tersebut diharapkan bahwa berkah dari adanya pabrik gula bisa dirasakan oleh masyarakat secara lebih luas. Bisa dikatakan bahwa pesta rakyat cembengan sebagai program cara berhubungan dengan masyarakat yang sangat cerdas, yang lahir dari leluhur- leluhur terdahulu. Tidak cuma hiburan, ada aktivitas ekonomi yang berdampak signifikan dalam perayaan Cembengan ini. Para pengusaha gula dari masa- masa terdahulu, telah memberikan warisan sebuah pelajaran penting dimana kehadiran sebuah pabrik gula haruslah tidak hanya berbuah manis bagi pemilik dan karyawannya, tetapi manisnya bisa dirasakan oleh masyarakat umum disekitarnya.

2.    Upacara Adat Larap Slambu
Salah satu upacara adat Kabupaten Sragen ini digelar setiap menyambut bulan Suro pada tahun baru dalam kalender Jawa. Ritual adat di Sragen ini biasa digelar di kawasan kompleks makam Pangeran Samudro, atau yang lebih dikenal dengan nama Gunung Kemukus, dengan nama upacara Larap Slambu. Setiap Tanggal 1 Suro, Upacara Larap Slambu Makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus Ritual adat di Sragen ini sangat terkenal dengan prosesi pencucian dan penggantian kain penutup makamnya. Makam yang dimaksud adalah milik Pangeran Samudro yang dipercaya sebagai salah satu anak raja terakhir Majapahit yang masuk Islam dan dan berguru kepada Sunan Kalijaga. Dalam prosesi adat ini pengunjung yang hadir biasa memperebutkan air cucian kain makam atau juga sesaji yang dihanyutkan ke sungai saat prosesi pencucian digelar. Selain prosesi adat itu, kini upacara ini juga telah dikemas dalam sebuah kegiatan grebeg budaya yang juga menyajikan berbagai hiburan tradisional seperti kirab gunungan hasil bumi dan juga pergelaran wayang kulit semalam suntuk.
3.    Tradisi Jum’at Wage di Bulan Sya’ban
Salah satu tradisi yang menjadi salah satu upacara adat Kabupaten Sragen adalah tradisi bersih desa yang digelar oleh warga Dusun Ngablak. Tradisi bersih desa Dusun Ngablak ini adalah tradisi yang rutin digelar setiap hari Jum’at Wage pada bulan Sya’ban dalam penanggalan Islam atau Hijriyah (bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa). Tidak berbeda dari tradisi bersih desa di lokasi lain, tradisi di kawasan bagian selatan Kabupaten Sragen itu dimaksudkan untuk memanjatkan do’a pada Tuhan agar dilimpahi ketentraman dan dijauhkan dari pagebluk. Karena itu juga tradisi ini diawali dengan acara kendurian selamatan yang digelar warga di sebuah pesanggrahan desa. Setelah prosesi kendurian selesai barulah beberapa kegiatan pendamping digelar oleh panitia penyelenggara. Kegiatan seperti hiburan berupa lomba dan atraksi jadi suguhan utama. Atraksi tradisional seperti jathilan atau jaran kepang hingga hiburan ketoprak dapat ditemui setelah kegiatan utama berlangsung. Selain atraksi dan hiburan tradisional itu, dalam tradisi bersih desa ini dapat dijumpai berbagai makanan tradisional yang mungkin makin jarang ditemukan saat ini seperti nasi kulupan yang hanya bisa dijumpai saat kendurian.
4.    Tradisi Selamatan Kematian
Pelaksanaan selamatan kematian yang berlaku di masyarakat dilaksanakan setelah kegiatan memandikan sampai penguburan jenazah, yaitu pada hari pertama meninggalnya sampai hari ketujuh, keempatpuluh, keseratus, haul dan sampai hari keseribu.Waktu pelaksanaan sering diadakan pada saat matahari telah terbenam yaitu setelah Maghrib atau Isya’ kadang juga dilaksanakan pada waktu matahari akan terbenam, yaitu sekitar setelah shalat Ashar, yang jelas waktu pelaksanaan selamatan kematian (tahlilan) tersebut bukan pada saat matahari sedang menyengat melainkan di saat udara dalam keadaan sejuk dan tidak panas. Pemilihan waktu paling tidak didasarkan atas suatu faktor tertentu, yaitu ketika masyarakat sudah beristirahat dari pekerjaannya serta tempat acara tahlilan dilaksanakan di rumah, serambi depan dengan mengosongkan suatu ruangan yang cukup luas untuk menampung para tamu. Upacara selamatan kematian (tahlilan) dihadiri oleh para anggota keluarga itu sendiri dengan beberapa tamu yang biasanya adalah tetangga- tetangga terdekat, para pria, serta selamatan tersebut dipimpin oleh seorang mudin atau Kyai kemungkinan besar sudah berada di rumah.
Acara tahlilan, sebagaimana acara-acara lain, dimulai dengan pembukaan dan diakhiri dengan pembagian makanan kepada para hadirin. Kaitannya dengan masalah makanan dalam acara tersebut, kadang-kadang pihak keluarga si mayat ada yang menyajikannya sampai dua kali, yaitu untuk disantap bersama di rumah tempat mereka berkumpul dan untuk dibawa pulang ke rumah masing- masing, yang disebut dengan istilah “berkat” (berasal dari bahasa Arab) barakah. Proses berjalannya acara yang sudah menjadi adat kebiasaan, dipimpin oleh seorang tokoh masyarakat, kalau bukan seorang ulama atau ustad yang sengaja disiapkan oleh tuan rumah. Penyajian hidangan disini tidak pernah ditentukan, tetapi pada hari-ahri ke-3 danke-7 biasanya penyajian hidangan menyajikan tumpeng, jajan pasar, lauk-pauk, dan dalam jajan pasar kadangkadang ada kue “Apem” sebagai pelengkap. Kue apem disini mempunyai maksud dan arti tersendiri. Kata Apem dalam sejarahnya berasal dari kata“Afwan” yang artinya maaf dari dosa. Maksud bahwa orang yang mengadakan selamatan kematian itu adalah untuk memohon maafkan arwah keluarga dari dosanya semasa masih hidup. Dan ketika selamatan kematian itu menempati hari ke-40, ke-100, ke-1000 dan haul pada tiap tahunnya, maka penyajian hidangan itu sudah berbeda lagi yaitu sesuai dengan kemampuan si punya hajat.
5.    Adat Perkawinan Larangan Jilu
Dalam pelaksanaan perkawinan, masyarakat sangat terikat oleh aturan, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, bahkan ketergantungan pada adat atau tradisi tata cara masyarakat yang berlaku sejak nenek moyang secara turun-temurun. Adat jilu merupakan salah satu dari larangan perkawinan yang masih dipakai. Jilu merupakan singkatan dari kata siji dan telu. Kata siji dalam bahasa Indonesia berarti satu, dan telu berarti tiga. Adat jilu merupakan larangan perkawinan antara anak nomer satu dengan anak nomer tiga atau sebaliknya. Menurut masyarakat, adat ini tidak boleh ditinggalkan atau dilanggar. Sebab sampai saat ini, diakui atau tidak, bila meninggalkan atau melanggar adat masih dipercaya akan ada hal buruk yang bisa terjadi.
                                                              
E.   Tempat Wisata Sragen
1.    Pemandian Air Panas Bayanan
2.    Museum Prasejarah Sangiran
3.    Taman Dayu (Dayu Park/Taman Dayu Alam Asri)
4.    Waduk Kedung Ombo
5.    Gunung Kemukus
6.    Desa Wisata Batik Kliwonan
7.    Makam Joko Tingkir

8.    Galleri Batik Sukowati dan Sentra Bisnis Batik Sragen